<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Bagi-bagi Ilmu</title>
	<atom:link href="http://mzaky.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://mzaky.wordpress.com</link>
	<description>Just another WordPress.com weblog</description>
	<lastBuildDate>Wed, 15 Oct 2008 00:46:02 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='mzaky.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Bagi-bagi Ilmu</title>
		<link>http://mzaky.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://mzaky.wordpress.com/osd.xml" title="Bagi-bagi Ilmu" />
	<atom:link rel='hub' href='http://mzaky.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Hakekat Syukur</title>
		<link>http://mzaky.wordpress.com/2008/10/15/hakekat-syukur/</link>
		<comments>http://mzaky.wordpress.com/2008/10/15/hakekat-syukur/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 15 Oct 2008 00:46:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mzaky</dc:creator>
				<category><![CDATA[Nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[nikmat]]></category>
		<category><![CDATA[syukur]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mzaky.wordpress.com/?p=33</guid>
		<description><![CDATA[Syukur tidak cukup hanya sekedar mengucapkan &#8220;Al Hamdulillah&#8221; dengan lisannya. Namun lebih luas dari itu, sebagaimana yang dijelaskan oleh Imam Ibnu Qoyyim dalam kitabnya Madarij Salikin, (2/254), beliau berkata, &#8220;Hakekat syukur terhadap nikmat Alloh adalah menampakkan pujian dengan lisan, kecintaan di hatinya dan ketaatan pada anggota tubuhnya. Syukur dibangun di atas lima landasan utama : [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mzaky.wordpress.com&amp;blog=4708386&amp;post=33&amp;subd=mzaky&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="ln3">Syukur tidak cukup hanya sekedar mengucapkan &#8220;Al Hamdulillah&#8221; dengan lisannya. Namun lebih luas dari itu, sebagaimana yang dijelaskan oleh Imam Ibnu Qoyyim dalam kitabnya Madarij Salikin, (2/254), beliau berkata,</div>
<div></div>
<div id="ln12">&#8220;Hakekat syukur terhadap nikmat Alloh adalah menampakkan pujian dengan lisan, kecintaan di hatinya dan ketaatan pada anggota tubuhnya. Syukur dibangun di atas lima landasan utama : ketundukan kepada Alloh, kecintaan kepada-Nya, pengakuan terhadap nikmat-Nya, pujian kepada-Nya dan tidak menggunakannya dalam kemaksiatan kepada Allah. Inilah lima landasan syukur&#8221;.</div>
<div id="ln17">&#8220;Barangsiapa yang tidak melaksanakan salah satu dari lima landasan tersebut, berarti satu landasan telah hilang darinya&#8221;.</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mzaky.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mzaky.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mzaky.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mzaky.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/mzaky.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/mzaky.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/mzaky.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/mzaky.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mzaky.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mzaky.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mzaky.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mzaky.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mzaky.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mzaky.wordpress.com/33/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mzaky.wordpress.com&amp;blog=4708386&amp;post=33&amp;subd=mzaky&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mzaky.wordpress.com/2008/10/15/hakekat-syukur/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/03456a19a491e796bff09d231a5c690e?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">mzaky</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kesempurnaan Agama Islam</title>
		<link>http://mzaky.wordpress.com/2008/09/11/kesempurnaan-agama-islam/</link>
		<comments>http://mzaky.wordpress.com/2008/09/11/kesempurnaan-agama-islam/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 11 Sep 2008 16:55:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mzaky</dc:creator>
				<category><![CDATA[As-Sunnah dan Bid'ah]]></category>
		<category><![CDATA[sempurna]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mzaky.wordpress.com/?p=28</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : Al Ustadz Abu Ishaq Muslim Islam sebagai satu-satunya agama yang dipilih oleh Allah Ta’ala sebagaimana firman-Nya : &#8221; Sesungguhnya agama di sisi Allah adalah Islam&#8221; (Ali Imron : 19) Merupakan kebenaran mutlak yang datang dari Allah Ta’ala dan tidak ada kebenaran selain Islam, maka siapa yang menginginkan selain Islam berarti dia memilih kebathilan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mzaky.wordpress.com&amp;blog=4708386&amp;post=28&amp;subd=mzaky&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;line-height:150%;">
<p style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong>Oleh : Al Ustadz Abu Ishaq Muslim</strong></p>
<p style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="IN">Islam sebagai satu-satunya agama yang dipilih oleh Allah Ta’ala sebagaimana firman-Nya : </span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:150%;">&#8221; Sesungguhnya agama di sisi Allah adalah Islam&#8221; (Ali Imron : 19)</p>
<p style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="IN">Merupakan kebenaran mutlak yang datang dari Allah Ta’ala dan tidak ada kebenaran selain Islam, maka siapa yang menginginkan selain Islam berarti dia memilih kebathilan dan dalam keadaan merugi. </span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="IN">Allah Ta’ala berfirman : </span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:150%;">&#8220;Apakah selain agama Allah (Islam) yang mereka inginkan, padahal hanya kepada Allah-lah berserah diri segala apa yang ada di langit dan di bumi baik dengan tunduk (taat) amupun dipaksa dan hanya kepada-Nya mereka dikembalikan. &#8221; (Ali Imran : 83)</p>
<p style="text-align:justify;line-height:150%;">&#8220;Dan siapa yang menginginkan selain Islam sebagai agamanya maka tidak akan diterima darinya agama tersebut dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang merugi. &#8221; (Ali Imran : 85)</p>
<p style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="IN">Agama yang haq ini telah disempurnakan oleh Allah Ta’ala dalam segala segi, segala yang dibutuhkan hamba untuk kehidupan dunia dan akhiratnya telah dijelaskan, sehingga tidak luput satu percakapan melainkan Islam telah mengaturnya.</span><span lang="IN"> </span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="IN">Allah Ta’ala berfirman : “Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kalian agama kalian dan telah kusempurnakan nikmat-Ku bagi kalian dan Aku ridha Islam sebagai agama kalian.” (Al Maidah : 3)</span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="IN">Al Hafidh Ibnu Katsir rahimahullah dalam Tafsir-nya berkata : “Ini merupakan nikmat Allah yang terbesar bagi ummat ini, dimana Allah telah menyempurnakan bagi mereka agama mereka sehingga mereka tidak butuh kepada selain agama Islam dan tidak butuh kepada Nabi selain Nabi mereka shalawatullahi wasalaamu alaihi. Karena itulah Allah menjadikan Nabi ummat ini (Muhammad shallallahu alahi wasallam, pent.) sebagai penutup para Nabi dan Allah mengutusnya untuk kalangan manusia dan jin, maka tidak ada perkara yang haram kecuali apa yang dia haramkan, dan tidak ada agama kecuali apa yang dia syariatkan. Segala sesuatu yang dia kabarkan adalah kebenaran dan kejujuran tidak ada kedustaan padanya dan tidak ada penyuluhan.” (Tafsir Al Quranul Adzim 3/14. Dar Al Ma’rifat).</span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="IN">Pernah datang seorang Yahudi kepada Umar Ibnul Khattab Radhiyallahu ‘anhu lalu ia berkata : [ Wahai Amirul Mukminin! Seandainya ayat ini : "Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kalian agama kalian dan telah Kusempurnakan nikmat-Ku bagi kalian dan Aku ridha Islam sebagai agama kalian."... turun atas kami, niscaya kami akan jadikan hari turunnya ayat tersebut sebagai hari raya. Maka Umar menjawab : "Sesungguhnya aku tahu pada hari apa turun ayat tersebut, ayat ini turun pada hari Arafah bertepatan dengan hari Jum'at." (Riwayat Bukhari dalam Shahih-nya nomor 45,4407,4606).</span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="IN">Ayat yang menunjukkan kesempurnaan Islam ini memang patut dibanggakan dan hari turunnya patut dirayakan sebagai hari besar. Namun kita tidak perlu membuat-buat hari raya baru karena Allah menurunkannya tepat pada hari besar yang dirayakan oleh seluruh kaum Muslimin, yaitu hari Arafah<br />
dan hari Jum'at.</span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="IN">Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sebagai utusan Allah Ta'ala kepada ummat ini telah menunaikan amanah dan menyampaikan risalah dari Allah dengan sempurna. Maka tidaklah beliau shallallahu alaihi wasallam wafat melainkan beliau telah menjelaskan kepada ummatnya seluruh apa yang mereka butuhkan.</span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="IN">Imam Bukhari meriwayatkan dalam Shahih-nya dari Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata : "Sungguh Nabi shallallahu alaihi wasallam berkhutbah di hadapan kami dengan suatu khutbah yang beliau tidak meninggalkan sedikitpun perkara yang akan berlangsung sampai hari kiamat kecuali beliau sebutkan ilmunya ... ." (Shahih Bukhari nomor 6604).</span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="IN">Imam Muslim meriwayatkan dalam Shahih-nya (juz 4 halaman 2217) dari Abu Zaid Amr bin Akhthab radhiallahu 'anhu, ia berkata : "Rasullullah shallallahu alaihi wasallam shalat Shubuh bersama kami.(Selesai shalat) beliau naik ke mimbar lalu berkhutbah di hadapan kami hingga tiba waktu Dhuhur, beliau turun dari mimbar dan shalat Dhuhur. Kemudian beliau naik lagi ke mimbar lalu berkhutbah di hadapan kami hingga tiba waktu Ashar, kemudian beliau turun dari mimbar dan shalat Ashar. (Setelah shalat Ashar) beliau naik ke mimbar lalu mengkhutbahi kami hingga tenggelam matahari. Dalam khutbah tersebut beliau mengabarkan pada kami apa yang telah berlangsung dan apa yang akan berlangsung ... ." </span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span lang="IN">Bid'ah Adalah Kesesatan</span></strong></p>
<p style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="IN">Dengan kesempurnaan yang dimiliki, syariat Islam tidak lagi memerlukan penambahan, pengurangan, ataupun perubahan, atau lebih simpelnya hal-hal ini diistilahkan bid'ah dalam agama yang telah diperingatkan dengan keras oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dalam sabda beliau : "Sesungguhnya sebaik-baik ucapan adalah ucapan Allah dan sebaik-baik ajaran adalah ajaran Rasulullah. Dan sesungguhnya sejelek-jelek perkara adalah sesuatu yang diada-adakan (dalam agama), karena sesungguhnya sesuatu yang baru diada-adakan (dalam agama) adalah bid'ah dan setiap bid'ah adalah kesesatan." (HR. Muslim no. 867) </span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="IN">Mengapa Bid'ah Dan Pembuatnya Dikatakan Sesat ?</span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="IN">Karena, pertama, bisa jadi pembuat bid'ah itu menganggap ajaran agama ini belum sempurna hingga perlu penyempurnaan dari hasil pemikiran manusia. Dengan anggapan demikian berarti ia mendustakan firman Allah Ta'ala yang memberikan kesempurnaan agama ini. </span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="IN">Kedua, bisa jadi ia menganggap agama ini telah sempurna, namun ada perkara yang belum disampaikan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, yang berarti ia menuduh beliau Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam telah berkhianat dalam penyampaian risalah. Padahal para shahabat seperti Abu Dzar radliyallahu anhu mempersaksikan : "Rasulullah meninggalkan kami dalam keadaan tidak ada seekor burung pun yang mengepak-ngepakkan kedua sayapnya di udara kecuali beliau menyebutkan ilmunya pada kami."</span></p>
<p>Abu Dzar kemudian berkata :</p>
<p style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="IN">Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda : "Tidaklah tertinggal sesuatu yang dapat mendekatkan ke Surga dan menjauhkan dari Neraka kecuali telah diterangkan pada kalian." (HR. Thabrani dalam Mu'jamul Kabir, lihat As Shahihah karya Syaikh Albani rahimahullah 4/416 dan hadits ini memiliki pendukung dari riwayat lain).</span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="IN">Imam Malik rahimahullah berkata : Barangsiapa yang mengada-adakan dalam Islam sesuatu kebid'ahan dan menganggapnya baik berarti ia telah menuduh Rasulullah telah berkhianat dalam menyampaikan risalah. </span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="IN">Karena Allah telah berfirman : "Pada hari ini telah Aku sempurnakan bagi kalian agama kalian." Maka apa yang waktu itu (pada masa Rasulullah dan para shahabat beliau) bukan bagian dari agama, (maka) pada hari ini pun bukan bagiandari agama." (Lihat Al I'tisham oleh Imam Syathibi halaman 37) </span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="IN">Ketiga, bisa jadi pembuat bid'ah itu menganggap dirinya lebih berilmu dibanding Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sehingga dia tahu ada amalan baik yang tidak diketahui dan tidak diajarkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.</span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="IN">Apakah Teranggap Niat Baik Seseorang Ketika Berbuat Bid'ah ? </span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="IN">Bagaimana bila ada orang yang berkata bahwa ia membuat-buat amalan bid'ah atau mengerjakannya dengan niat yang baik dan ikhlas karena Allah ? Maka dijawab bahwa syarat diterimanya suatu amalan tidaklah sekedar niat baik atau ikhlas, namun juga harus dibarengi dengan Mutaba'ah Ar Rasul (mengikuti Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam), adakah contohnya dari beliau atau tidak. </span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="IN">Ibnu Katsir rahimahullah ketika menafsirkan firman Allah Ta'ala (yang artinya) :"Maka siapa yang mengharapkan perjumpaan dengan Rabb-nya hendaklah dia melakukan amal shalih dan janganlah dia menyekutukan Rabb-nya dengan seorang pun dalam peribadatan kepada-Nya." (QS. Al Kahfi : 10)</span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="IN">Beliau rahimahullah berkata : [ Firman Allah : " ... hendaklah ia melakukan amal shalih ... ." Yang cocok/sesuai dengan syariat Allah. Dan firman-Nya : " ... dan janganlah dia menyekutukan Rabb-nya dengan seorang pun dalam peribadatan kepada-Nya." Yang diinginkan dalam beribadah tersebut adalah wajah Allah saja tanpa menyekutukan-Nya. Dua rukun diterimanya amalan adalah (pertama) harus dilakukan ikhlas karena Allah dan (kedua) amalan tersebut benar dan sesuai dengan syariat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam." (Tafsir Ibnu Katsir 3/114) ].</span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="IN">Terhadap firman Allah Ta’ala : “Dialah yang menciptakan kematian dan kehidupan agar Dia menguji kalian siapa yang paling baik di antara kalian amalannya.” (QS. Al Mulk : 2) Al Fudlail bin Iyadl rahimahullah berkata : “Amalan yang paling baik adalah amalan yang paling ikhlas dan paling benar/tetap. Karena amalan yang hanya disertai keikhlasan namun tidak benar maka amalan itu tidak diterima. Dan sebaliknya, bila amalan itu benar namun tidak dibarengi keikhlasan juga tidak akan diterima.”</span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="IN">Pernah datang tiga orang shahabat Nabi shallallahu alaihi wasallam ke rumah istri-istri beliau guna menanyakan tentang ibadah beliau. Tatkala diberitahukan kepada mereka, mereka menganggapnya kecil dan mereka berkata : “Apa kedudukan kita dibanding Nabi shallallahu alaihi wasallam, beliau telah diampuni dosa-dosanya yang telah lalu dan yang belakangan.” Berkata salah seorang dari mereka : “Aku akan shalat sepanjang malam tanpa tidur selamanya.” Yang kedua berkata : “Aku akan berpuasa sepanjang tahun dan tidak akan berbuka.” Yang terakhir berkata : “Aku akan menjauhi wanita maka aku tidak akan menikah selamanya.” </span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="IN">Lalu datanglah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan ucapan-ucapan mereka disampaikan kepada beliau, maka beliau bersabda : “Apakah kalian yang mengatakan begini dan begitu ?! Ketahuilah! Demi Allah, aku adalah orang yang paling takut kepada Allah dibanding kalian dan paling bertakwa kepada-Nya, akan tetapi aku puasa dan aku berbuka, aku shalat dan aku tidur, dan aku juga menikahi wanita. Siapa yang benci (berpaling) terhadap sunnahku maka ia bukan dari golonganku (orang-orang yang menjalankan sunnahku).” (HR. Bukhari dan Muslim)</span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="IN">Kalau kita lihat keberadaan tiga orang ini maka kita dapatkan niatan mereka yang baik yaitu untuk bersungguh-sungguh melakukan ibadah kepada Allah, namun apakah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam menyetujui perbuatan mereka? Jawabannya bisa kita lihat dari pernyataan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas.</span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="IN">Benar sekali apa yang diucapkan oleh shahabat Nabi, Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu anhu : “Sederhana dalam sunnah lebih baik daripada bersungguh-sungguh dalam perbuatan bid’ah.”</span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="IN">Orang-orang yang mengadakan bid’ah itu walaupun niatnya baik tetap tertolak dengan dalil hadits Nabi shallallahu alaihi wasallam : “Siapa yang mengada-adakan sesuatu amalan di dalam urusan (agama) kami ini dengan yang bukan bagian dari agama ini maka amalan itu tertolak.” (HR. Bukhari dan Muslim dalam Shahih keduanya)</span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="IN">Dan beliau bersabda :”Siapa yang mengamalkan suatu amalan yang tidak ada<br />
perintahnya dari kami maka amalan itu tertolak.” (HR. Muslim). Karena itu yang wajib bagi kaum Muslimin adalah mencukupkan diri dengan ibadah-ibadah yang telah disyariatkan oleh Allah dan Rasul-Nya, tanpa menambah<br />
ataupun menguranginya.</span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="IN">Adakah Bid’ah Hasanah ?</span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="IN">Tidak ada dalam agama ini istilah pembagian bid’ah menjadi bid’ah hasanah (bid’ah yang baik) dan bid’ah sayyi’ah (bid’ah yang jelek) karena Rasulullah shallallahu alaihi wasallam telah menegaskan : “Setiap bid’ah adalah sesat dan setiap kesesatan tempatnya di neraka.” (HR. Muslim dalam Shahih-nya, sedang tambahannya diriwayatkan dalam Sunan Nasa’i)</span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="IN">Lalu bagaimana dengan ucapan Umar radhiallahu anhu ketika<br />
melihat pelaksanaan shalat tarawih secara berjama’ah : “Sebaik-baik bid’ah adalah perbuatan ini.” (Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam Shahih-nya)</span></p>
<p>Maka kita katakan bahwa yang dimaukan oleh Umar dengan ucapannya tersebut adalah pengertian bid’ah secara bahasa, bukan secara syari’at, karena Umar mengucapkan perkataan demikian sehubungan dengan berkumpulnya manusia di bawah satu imam dalam pelaksanaan shalat tarawih, sementara shalat tarawih secara berjama’ah telah disyariatkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dimana beliau sempat mengerjakannya selama beberapa malam secara berjama’ah dengan para shahabatnya, kemudian beliau tinggalkan karena khawatir hal itu diwajibkan atas mereka. Sehingga setelah itu manusia mengerjakan tarawih secara sendiri-sendiri atau dengan jama’ah yang terpisah-pisah (berbilang/berkelompok-kelompok).</p>
<p style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="IN">Lalu pada masa pemerintahannya Umar radhiallahu ‘anhu, Umar radhiallahu ‘anhu mengumpulkan mereka di bawah pimpinan satu imam sebagaimana pernah dilakukan di zaman Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, karena wahyu telah berhenti turun dengan meninggalnya beliau Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam dan berarti tidak ada lagi kekhawatiran diwajibkannya perkara tersebut. </span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="IN">Dengan demikian Umar radhiallahu ‘anhu menghidupkan kembali sunnah tarawih secara berjama’ah dan ia mengembalikan sesuatu yang sempat terputus, maka teranggaplah perbuatannya tersebut sebagai bid’ah dalam pengertian bahasa, bukan pengertian syari’at, karena bid’ah yang syar’i hukumnya haram, tidak mungkin Umar radhiallahu ‘anhu ataupun selainnya dari kalangan shahabat melakukan hal tersebut, sementara mereka tahu peringatan keras dari Nabi radhiallahu ‘anhu akan perbuatan bid’ah. (Dzahirut Tabdi’, halaman 43-44). </span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="IN">Adapun di masa Abu Bakar radiallahu anhu, sunnah tarawih secara berjama’ah ini tidak sempat dihidupkan karena khilafah beliau hanya sebentar dan ketika itu beliau disibukkan dengan orang-orang yang murtad dan enggan membayar zakat, demikian keterangan Imam Syathibi dalam kitabnya Al I’tisham, wallahu a’lam. Semoga Allah merahmati shahabat Nabi, Abdullah Bin Umar radiallahu anhuma yang berkata : “Setiap bid’ah adalah sesat sekalipun manusia memandangnya baik.”</span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="IN">Hukum Membuat Bid’ah Dalam Agama </span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="IN">Hukum membuat bid’ah dalam agama adalah haram berdasarkan Al Qur’an, As Sunnah, dan ijma’ (kesepakatan ulama), karena membuat bid’ah berarti menetapkan syariat yang menyaingi syariat Allah, yang berarti menentang dan mengadakan permusuhan terhadap Allah dan Rasul-Nya. (Hurmatul Ibtida’ fid Dien wa Kullu Bid’atin Dlalalah, Abu Bakar Jabir Al Jazairi, halaman <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_cool.gif' alt='8)' class='wp-smiley' /> </p>
<p></span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="IN">Contoh Bid’ah Dalam Hari Raya/Hari Besar Yang Disandarkan Kepada Islam</span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="IN">Dalam syariat agama yang mulia ini hanya dikenal adanya dua hari raya/ied, sebagaimana disebutkan dalam hadits riwayat Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu :</span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="IN">Nabi shallallahu alaihi wasallam datang ke Madinah dan ketika itu penduduk Madinah memiliki dua hari raya yang mereka bisa bersenang-senang di dalamnya pada masa jahiliyyah, maka beliau bersabda : “Aku datang pada kalian dalam keadaan kalian memiliki dua hari raya yang kalian bersenang-senang di dalamnya pada masa jahiliyyah. Dan sungguh Allah telah menggantikan bagi kalian dua hari tersebut dengan yang lebih baik yaitu hari Nahr (Iedul Adha) dan Iedul Fitri.” (HR Ahmad, Abu Daud, Nasa’i dan Baghawi)</span></p>
<p>Iedul Adha dan Iedul Fitri lebih baik daripada dua hari raya yang dimiliki penduduk Madinah karena Iedul Adha dan Iedul Fitri ditetapkan dengan syariat Allah yang dipilih-Nya untuk hamba-Nya dan kedua hari raya tersebut mengiringi dua amalan besar dalam Islam yaitu haji dan puasa. Sedangkan hari Nairuz dan Mahrajan ditetapkan dengan pilihan manusia. (Ahkamul Iedain fis Sunnatil Muthahharah, halaman15-16)</p>
<p style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="IN">Apabila kita telah mengetahui bahwa hari raya dalam Islam hanya ada dua, maka selain dari dua hari raya ini adalah hari raya yang diada-adakan (bid’ah), kemudian dinisbahkan kepada agama. </span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="IN">Contohnya seperti :</span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="IN">- Isra’ Mi’raj. Perayaan ini meniru perayaan Paskah (kenaikan Isa Al Masih) umat Nashrani, padahal kita dilarang meniru orang-orang kafir, Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam sendiri memperingatkan : “Siapa yang meniru-niru suatu kaum maka ia termasuk golongan kaum<br />
tersebut.”<br />
- Perayaan Nuzul Qur’an</span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="IN">- Perayaan tahun baru Islam 1 Muharram, yang meniru perayaan tahun baru Masehi.<br />
- Maulid Nabi, yang meniru Nashrani dalam perayaan Natal.</span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="IN">- Dan lain-lain.</span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="IN">Bila ada yang mengatakan bahwa orang-orang yang mengadakan dan merayakan perayaan seperti Maulid Nabi adalah karena cinta kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam dan mengagungkan beliau, maka kita jawab bahwa para shahabat Nabi shallallahu alaihi wasallam dan generasi terbaik setelah mereka (generasi Salafus Shalih) tidak pernah melakukan hal tersebut, padahal mereka adalah orang-orang yang tidak diragukan kecintaannya kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam dan tidak disangsikan pengagungan mereka kepada beliau, serta mereka adalah orang-orang yang sangat bersemangat untuk melakukan amalan kebajikan. Seandainya perayaan Maulid itu baik, niscaya mereka adalah orang pertama yang melakukannya. Dan demikian yang kita katakan terhadap setiap amalan yang diada-adakan dalam agama ini. Seandainya amalan itu baik maka para pendahulu kita yang shalih tentunya telah mendahului kita dalam mengamalkannya.</span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="IN">Ketahuilah, pernyataan cinta kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bukan diwujudkan dengan mengadakan perayaan seperti Maulid, namun bukti cinta kepada beliau diwujudkan (dibuktikan) dengan mengikuti beliau, menaati, mengikuti perintahnya, menghidupkan sunnahnya baik secara lahir maupun batin, menyebarkan dakwah beliau, berjihad untuk menegakkan dakwah baik dengan hati, lisan, maupun anggota badan. Inilah jalan yang ditempuh oleh As Sabiqunal Awwaluna dari kalangan Muhajirin dan Anshar serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik.</span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="IN">Jalan Keluar dari Kebid’ahan </span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="IN">Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menyampaikan dalam banyak haditsnya jalan keluar dari kebid’ahan jauh sebelum terjadinya bid’ah. Beliau bersabda : “Aku tinggalkan kepada kalian dua perkara yang kalau kalian berpegang teguh dengannya niscaya kalian tidak akan tersesat sepeninggalku selamanya, yaitu Kitabullah dan Sunnahku.” (HR. Hakim dan dishahihkan dalam Shahihul Jami’ oleh Syaikh Albani rahimahullah)</span></p>
<p>Beliau juga menasehatkan : “Aku wasiatkan kepada kalian untuk takwa kepada Allah Azza wa Jalla, taat dan mendengar sekalipun kalian dipimpin oleh seorang hamba sahaya karena siapa saja diantara kalian yang hidup sepeninggalku niscaya dia akan melihat perselisihan yang banyak. Maka (ketika itu) wajib atas kalian berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah Khulafaur Rasyidin yang mendapat petunjuk setelahku. Gigitlah dengan gigi gerahammu dan hati-hatilah kalian dari perkara-perkara yang baru karena setiap yang bid’ah itu sesat.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi, ia berkata hadits hasan shahih)</p>
<p style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="IN">Satu-satunya jalan menyelamatkan diri dari bid’ah adalah berpegang teguh pada dengan Kitabullah dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam serta Petunjuk Salafus Shalih, pemahaman mereka, manhaj mereka, dan pengamalan mereka terhadap dua wahyu, karena mereka adalah orang yang paling besar cintanya kepada Allah dan Rasul-Nya, paling kuat ittiba’-nya, paling dalam ilmunya dan paling luas pemahamannya terhadap Al Qur’an dan As Sunnah.</span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="IN">Dengan cara ini seorang Muslim akan mampu berpegang teguh dengan agamanya dan bebas dari segala kotoran yang mencemari dan jauh dari semua kebid’ahan yang menyesatkan. Dan jalan ini mudah bagi yang dimudahkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Wallahu a’lam bishawwab.</span></p>
<p>[<em>Disalin dari darussunnah.or.id yang sebelumnya dikutip dari majalah Salafy, ditulis oleh Al Ustadz Muslim Abu Ishaq - murid Syaikh Muqbil bin Hadi Al Wadi'y rahimahullah, Yaman</em>]</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/mzaky.wordpress.com/28/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/mzaky.wordpress.com/28/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mzaky.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mzaky.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mzaky.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mzaky.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/mzaky.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/mzaky.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/mzaky.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/mzaky.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mzaky.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mzaky.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mzaky.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mzaky.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mzaky.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mzaky.wordpress.com/28/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mzaky.wordpress.com&amp;blog=4708386&amp;post=28&amp;subd=mzaky&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mzaky.wordpress.com/2008/09/11/kesempurnaan-agama-islam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/03456a19a491e796bff09d231a5c690e?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">mzaky</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ahlus Sunnah Wal Jama&#8217;ah</title>
		<link>http://mzaky.wordpress.com/2008/09/10/ahlus-sunnah-wal-jamaah/</link>
		<comments>http://mzaky.wordpress.com/2008/09/10/ahlus-sunnah-wal-jamaah/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 10 Sep 2008 04:34:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mzaky</dc:creator>
				<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[Ahlussunnah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mzaky.wordpress.com/?p=25</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : Muhammad bin Abdullah Al-Wuhaibi As-Sunnah dalam istilah mempunyai beberapa makna[1]. Dalam tulisan ringkas ini tidak hendak dibahas makna-makna itu. Tetapi hendak menjelaskan istilah &#8220;As-Sunnah&#8221; atau &#8220;Ahlus Sunnah&#8221; menurut petunjuk yang sesuai dengan i&#8217;tiqad Al-Imam Ibnu Rajab rahimahullah mengatakan : &#8220;&#8230;.. Dari Abu Sufyan Ats-Tsauri ia berkata : &#8220;Artinya : Berbuat baiklah terhadap ahlus-sunnah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mzaky.wordpress.com&amp;blog=4708386&amp;post=25&amp;subd=mzaky&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Oleh : Muhammad bin Abdullah Al-Wuhaib</strong>i</p>
<p>As-Sunnah dalam istilah mempunyai beberapa makna[1]. Dalam tulisan ringkas ini tidak hendak dibahas makna-makna itu. Tetapi hendak menjelaskan istilah &#8220;As-Sunnah&#8221; atau &#8220;Ahlus Sunnah&#8221; menurut petunjuk yang sesuai dengan i&#8217;tiqad Al-Imam Ibnu Rajab rahimahullah mengatakan : &#8220;&#8230;.. Dari Abu Sufyan Ats-Tsauri ia berkata :</p>
<p>&#8220;Artinya : Berbuat baiklah terhadap ahlus-sunnah karena mereka itu ghuraba&#8221;[2]</p>
<p>Yang dimaksud &#8220;As-Sunnah&#8221; menurut para Imam yaitu : Thariqah (jalan hidup) Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam dimana beliau Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam dan para shahabat berada di atasnya&#8221;. Yang selamat dari syubhat dan syahwat&#8221;, oleh karena itu Al-Fudhail bin Iyadh mengatakan : &#8220;Ahlus Sunnah itu orang yang mengetahui apa yang masuk kedalam perutnya dari (makanan) yang halal&#8221;.[3]</p>
<p>Karena tanpa memakan yang haram termasuk salah satu perkara sunnah yang besar yang pernah dilakukan oleh Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam dan para shahabat radhiyallahu &#8216;anhum. Kemudian dalam pemahaman kebanyakan Ulama Muta&#8217;akhirin dari kalangan Ahli Hadits dan lainnya. As-Sunnah itu ungkapan tentang apa yang selamat dari syubhat-syubhat dalam i&#8217;tiqad khususnya dalam masalah-masalah iman kepada Allah, para Malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya, para Rasul-Nya, Hari Akhir, begitu juga dalam masalah-masalah Qadar dan Fadhailush-Shahabah (keutamaan shahabat).</p>
<p>Para Ulama itu menyusun beberapa kitab dalam masalah ini dan mereka menamakan karya-karya mereka itu sebagai &#8220;As-Sunnah&#8221;. Menamakan masalah ini dengan &#8220;As-Sunnah&#8221; karena pentingnya masalah ini dan orang yang menyalahi dalam hal ini berada di tepi kehancuran. Adapun Sunnah yang sempurna adalah thariqah yang selamat dari syubhat dan syahwat.[4]</p>
<p>Ahlus Sunnah adalah mereka yang mengikuti sunnah Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam dan sunnah shahabatnya radhiyallahu &#8216;anhum.</p>
<p>Al-Imam Ibnul Jauzi mengatakan : &#8220;&#8230;.. Tidak diragukan bahwa Ahli Naqli dan Atsar pengikut atsar Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam dan atsar para shahabatnya, mereka itu Ahlus Sunnah&#8221;.[5]</p>
<p>Kata &#8220;Ahlus-Sunnah&#8221; mempunyai dua makna :</p>
<p><em><strong>Pertama.</strong></em><br />
Mengikuti sunah-sunah dan atsar-atsar yang datangnya dari Rasulullah shallallu &#8216;alaihi wa sallam dan para shahabat radhiyallahu &#8216;anhum, menekuninya, memisahkan yang shahih dari yang cacat dan melaksanakan apa yang diwajibkan dari perkataan dan perbuatan dalam masalah aqidah dan ahkam.</p>
<p><em><strong>Kedua.</strong></em><br />
Lebih khusus dari makna pertama, yaitu yang dijelaskan oleh sebagian ulama dimana mereka menamakan kitab mereka dengan nama As-Sunnah, seperti Abu Ashim, Al-Imam Ahmad bin Hanbal, Al-Imam Abdullah bin Ahmad bin Hanbal, Al-Khalal dan lain-lain. Mereka maksudkan (As-Sunnah) itu i&#8217;tiqad shahih yang ditetapkan dengan nash dan ijma&#8217;.</p>
<p>Kedua makna itu menjelaskan kepada kita bahwa madzhab Ahlus Sunnah itu kelanjutan dari apa yang pernah dilakukan Rasulullah shallallahu &#8216;alaih wa sallam dan para shahabat radhiyallahu &#8216;anhum. Adapun penamaan Ahlus Sunnah adalah sesudah terjadinya fitnah ketika awal munculnya firqah-firqah.</p>
<p>Ibnu Sirin rahimahullah mengatakan :&#8221;Mereka (pada mulanya) tidak pernah menanyakan tentang sanad. Ketika terjadi fitnah (para ulama) mengatakan : Tunjukkan (nama-nama) perawimu kepada kami. Kemudian ia melihat kepada Ahlus Sunnah sehingga hadits mereka diambil. Dan melihat kepada Ahlul Bi&#8217;dah dan hadits mereka tidak di ambil&#8221;.[6]</p>
<p>Al-Imam Malik rahimahullah pernah ditanya :&#8221;Siapakah Ahlus Sunnah itu ? Ia menjawab : Ahlus Sunnah itu mereka yang tidak mempunyai laqab (julukan) yang sudah terkenal yakni bukan Jahmi, Qadari, dan bukan pula Rafidli&#8221;.[7]</p>
<p>Kemudian ketika Jahmiyah mempunyai kekuasaan dan negara, mereka menjadi sumber bencana bagi manusia, mereka mengajak untuk masuk ke aliran Jahmiyah dengan anjuran dan paksaan. Mereka menggangu, menyiksa dan bahkan membunuh orang yang tidak sependapat dengan mereka. Kemudian Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala menciptakan Al-Imam Ahmad bin Hanbal untuk membela Ahlus Sunnah. Dimana beliau bersabar atas ujian dan bencana yang ditimpakan mereka.</p>
<p>Beliau membantah dan patahkan hujjah-hujjah mereka, kemudian beliau umumkan serta munculkan As-Sunnah dan beliau menghadang dihadapan Ahlul Bid&#8217;ah dan Ahlul Kalam. Sehingga, beliau diberi gelar Imam Ahlus Sunnah.</p>
<p>Dari keterangan di atas dapat kita simpulkan bahwa istilah Ahlus Sunnah terkenal dikalangan Ulama Mutaqaddimin (terdahulu) dengan istilah yang berlawanan dengan istilah Ahlul Ahwa&#8217; wal Bida&#8217; dari kelompok Rafidlah, Jahmiyah, Khawarij, Murji&#8217;ah dan lain-lain. Sedangkan Ahlus Sunnah tetap berpegang pada ushul (pokok) yang pernah diajarkan Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam dan shahabat radhiyallahu &#8216;anhum.</p>
<p><strong>Ahlus Sunnah wal-Jama&#8217;ah</strong><br />
Istilah yang digunakan untuk menamakan pengikut madzhab As-Salafus Shalih dalam i&#8217;tiqad ialah Ahlus Sunnah wal Jama&#8217;ah. Banyak hadits yang memerintahkan untuk berjama&#8217;ah dan melarang berfirqah-firqah dan keluar dari jama&#8217;ah. [8]</p>
<p>Para ulama berselisih tentang perintah berjama&#8217;ah ini dalam beberapa pendapat :[9]</p>
<p>[1] Jama&#8217;ah itu adalah As-Sawadul A&#8217;dzam (sekelompok manusia atau kelompok terbesar-pen) dari pemeluk Islam.<br />
[2] Para Imam Mujtahid<br />
[3] Para Shahabat Nabi radhiyallahu &#8216;anhum.<br />
[4] Jama&#8217;ahnya kaum muslimin jika bersepakat atas sesuatu perkara.<br />
[5] Jama&#8217;ah kaum muslimin jika mengangkat seorang amir.</p>
<p>Pendapat-pendapat di atas kembali kepada dua makna:</p>
<p><em><strong>Pertama.</strong></em><br />
Bahwa jama&#8217;ah adalah mereka yang bersepakat mengangkat seseorang amir (pemimpin) menurut tuntunan syara&#8217;, maka wajib melazimi jama&#8217;ah ini dan haram menentang jama&#8217;ah ini dan amirnya.<br />
<em><strong><br />
Kedua.</strong></em><br />
Bahwa jama&#8217;ah yang Ahlus Sunnah melakukan i&#8217;tiba&#8217; dan meninggalkan ibtida&#8217; (bid&#8217;ah) adalah madzhab yang haq yang wajib diikuti dan dijalani menurut manhajnya. Ini adalah makna penafsiran jama&#8217;ah dengan Shahabat Ahlul Ilmi wal Hadits, Ijma&#8217; atau As-Sawadul A&#8217;dzam.[10]</p>
<p>Syaikhul Islam mengatakan : &#8220;Mereka (para ulama) menamakan Ahlul Jama&#8217;ah karena jama&#8217;ah itu adalah ijtima&#8217; (berkumpul) dan lawannya firqah. Meskipun lafadz jama&#8217;ah telah menjadi satu nama untuk orang-orang yang berkelompok. Sedangkan ijma&#8217; merupakan pokok ketiga yang menjadi sandaran ilmu dan dien. Dan mereka (para ulama) mengukur semua perkataan dan pebuatan manusia zhahir maupun bathin yang ada hubungannya dengan dien dengan ketiga pokok ini (Al-Qur&#8217;an, Sunnah dan Ijma&#8217;).[11]</p>
<p>Istilah Ahlus Sunnah wal Jama&#8217;ah mempunyai istilah yang sama dengan Ahlus Sunnah. Dan secara umum para ulama menggunakan istilah ini sebagai pembanding Ahlul Ahwa&#8217; wal Bida&#8217;. Contohnya : Ibnu Abbas radhiyallahu &#8216;anhum mengatakan tentang tafsir firman Allah Ta&#8217;ala :</p>
<p>&#8220;Artinya : Pada hari yang di waktu itu ada muka yang putih berseri dan adapula muka yang muram&#8221;. [Ali-Imran : 105].</p>
<p>&#8220;Adapun orang-orang yang mukanya putih berseri adalah Ahlus Sunnah wal Jama&#8217;ah sedangkan orang-orang yang mukanya hitam muram adalah Ahlul Ahwa&#8217; wa Dhalalah&#8221;. [12]</p>
<p>Sufyan Ats-Tsauri mengatakan : &#8220;Jika sampai (khabar) kepadamu tentang seseorang di arah timur ada pendukung sunnah dan yang lainnya di arah barat maka kirimkanlah salam kepadanya dan do&#8217;akanlah mereka. Alangkah sedikitnya Ahlus Sunnah wal Jama&#8217;ah&#8221;.[13]</p>
<p>Jadi kita dapat menyimpulkan bahwa Ahlus Sunnah wal Jama&#8217;ah adalah firqah yang berada diantara firqah-firqah yang ada, seperti juga kaum muslimin berada di tengah-tengah milah-milah lain. Penisbatan kepadanya, penamaan dengannya dan penggunaan nama ini menunjukan atas luasnya i&#8217;tiqad dan manhaj.</p>
<p>Nama Ahlus Sunnah merupakan perkara yang baik dan boleh serta telah digunakan oleh para Ulama Salaf. Diantara yang paling banyak menggunakan istilah ini ialah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah.</p>
<p><strong>Asy&#8217;ariyah, Maturidiyah dan Istilah Ahlus Sunnah</strong><br />
Asy&#8217;ariyah dan Maturidhiyah banyak menggunakan istilah Ahlus Sunnah wal Jama&#8217;ah ini, dan di kalangan mereka kebanyakan mengatakan bahwa madzhab salaf &#8220;Ahlus Sunnah wa Jama&#8217;ah&#8221; adalah apa yang dikatakan oleh Abul Hasan Al-Asy&#8217;ari dan Abu Manshur Al-Maturidi. Sebagian dari mereka mengatakan Ahlus Sunnah wal Jama&#8217;ah itu As&#8217;ariyah, Maturidiyah dan Madzhab Salaf.</p>
<p>Az-Zubaidi mengatakan : &#8220;Jika dikatakan Ahlus Sunnah, maka yang dimaksud dengan mereka itu adalah Asy&#8217;ariyah dan Maturidiyah&#8221;.[14]</p>
<p>Penulis Ar-Raudhatul Bahiyyah mengatakan :&#8221;Ketahuilah bahwa pokok semua aqaid Ahlus Sunnah wal Jama&#8217;ah atas dasar ucapan dua kutub, yakni Abul Hasan Al-Asy&#8217;ari dan Imam Abu Manshur Al-Maturidi&#8221;. [15]</p>
<p>Al-Ayji mengatakan :&#8221;Adapun Al-Firqotun Najiyah yang terpilih adalah orang-orang yang Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam berkata tentang mereka : &#8220;Mereka itu adalah orang-orang yang berada di atas apa yang Aku dan para shahabatku berada diatasnya&#8221;. Mereka itu adalah Asy&#8217;ariyah dan Salaf dari kalangan Ahli Hadits dan Ahlus Sunnah wal Jama&#8217;ah&#8221;.[16]</p>
<p>Hasan Ayyub mengatakan : &#8220;Ahlus Sunnah adalah Abu Hasan Al-Asy&#8217;ari dan Abu Mansyur Al-Maturidi dan orang-orang yang mengikuti jalan mereka berdua. Mereka berjalan di atas petunjuk Salafus Shalih dalam memahami aqaid&#8221;. [17]</p>
<p>Pada umumnya mereka mengatakan aqidah Asy&#8217;ariyah dan Maturidiyah berdasarkan madzhab Ahlus Sunnah wal Jama&#8217;ah. Disini tidak bermaksud mempermasalahkan pengakuan bathil ini. Tetapi hendak menyebutkan dua kesimpulan dalam masalah ini :</p>
<p>[1] Bahwa pemakaian istilah ini oleh pengikut Asy&#8217;ariyah dan Maturidiyah dan orang-orang yang terpengaruh oleh mereka sedikitpun tidak dapat merubah hakikat kebid&#8217;ahan dan kesesatan mereka dari Manhaj Salafus Shalih dalam banyak sebab.</p>
<p>[2] Bahwa penggunaan mereka terhadap istilah ini tidak menghalangi kita untuk menggunakan dan menamakan diri dengan istilah ini menurut syar&#8217;i dan yang digunakan oleh para Ulama Salaf. Tidak ada aib dan cercaan bagi yang menggunakan istilah ini. Sedangkan yang diaibkan adalah jika bertentangan dengan i&#8217;tiqad dan madzhab Salafus Shalih dalam pokok (ushul) apapun.</p>
<p>[Disalin dari www.almanhaj.or id yang sebelumnya disalin dari majalah As-Sunnah edisi 10/I/1415-1994 hal.29-32, terjemahan dari majalah Al-Bayan No. 78 Shafar 1415H/Juli 1994 oleh Ibrahim Said].<br />
_________<br />
Foote Note<br />
[1] Lihat Mawaqif Ibnu Taimiyah Minal Asy&#8217;ariyah I/3804 Oleh Syaikh Abdur Rahman Al-Mahmud dan kitab Mafhum Ahlis Sunnah wal Jama&#8217;ah Inda Ahlis Sunnah wal Jama&#8217;ah oleh Syaikh Nasyir Al-Aql<br />
[2] Diriwayatkan oleh Al-Lalika&#8217;i dalam &#8220;Syarhus-Sunnah&#8221; No. 49<br />
[3] Lihat : Al-Lalika&#8217;i Syarhus Sunnah No. 51 dan Abu Nu&#8217;aim dalam Al-Hilyah 8:1034<br />
[4] Kasyful Karriyyah 19-20<br />
[5] Talbisul Iblis oleh Ibnul Jauzi hal.16 dan lihat Al-Fashlu oleh Ibnu Hazm 2:107<br />
[6] Diriwayatkan oleh Muslim dalam Muqaddimah kitab shahihnya hal.15.<br />
[7] Al-Intiqa fi Fadlailits Tsalatsatil Aimmatil Fuqaha. hal.35 oleh Ibnu Abdil Barr<br />
[8] Lihat : Wujubu Luzuumil Jama&#8217;ah wa Dzamit Tafarruq. hal. 115-117 oleh Jamal bin Ahmad Badi.<br />
[9] Al-I&#8217;tisham 2:260-265.<br />
[10] Mauqif Ibni Taimiyah Minal Asya&#8217;irah 1:17<br />
[11] Majmu al-Fatawa 3:175.<br />
[12] Diriwayatkan oleh Al-Lalika&#8217;i 1:72 dan Ibnu Baththah dalam Asy-Syarah wal Ibanah 137. As-Suyuthi menisbahkan kepada Al-Khatib dalam tarikhnya dan Ibni Abi Hatim dalam Ad-Durrul Mantsur 2:63<br />
[13] Diriwayatkan oleh Al-Lalika&#8217;i dalam Syarhus Sunnah 1:64 dan Ibnul Jauzi dalam Talbisul Iblis hal.9<br />
[14] Ittihafus Sadatil Muttaqin 2:6<br />
[15] Ar-Raudlatul Bahiyyah oleh Abi Udibah hal.3<br />
[16] Al-Mawaqif hal. 429].<br />
[17] Lihat : Tabsithul Aqaidil Islamiyah, hal. 299 At-Tabshut fi Ushulid Din, hal. 153, At-Tamhid oleh An-nasafi hal.2, Al-Farqu Bainal Firaq, hal. 323, I&#8217;tiqadat Firaqil Muslimin idal Musyrikin, hal. 150</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/mzaky.wordpress.com/25/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/mzaky.wordpress.com/25/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mzaky.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mzaky.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mzaky.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mzaky.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/mzaky.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/mzaky.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/mzaky.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/mzaky.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mzaky.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mzaky.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mzaky.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mzaky.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mzaky.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mzaky.wordpress.com/25/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mzaky.wordpress.com&amp;blog=4708386&amp;post=25&amp;subd=mzaky&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mzaky.wordpress.com/2008/09/10/ahlus-sunnah-wal-jamaah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/03456a19a491e796bff09d231a5c690e?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">mzaky</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tauhid Al-Asma&#8217; Wash-Shifat</title>
		<link>http://mzaky.wordpress.com/2008/09/07/tauhid-al-asma-wash-shifat/</link>
		<comments>http://mzaky.wordpress.com/2008/09/07/tauhid-al-asma-wash-shifat/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 07 Sep 2008 20:30:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mzaky</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah Ahlus Sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[Al-Asma wash-Shifat]]></category>
		<category><![CDATA[tauhid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mzaky.wordpress.com/?p=16</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas Ahlus Sunnah menetapkan apa-apa yang Allah Azza wa Jalla dan RasulNya Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam telah tetapkan atas diri-Nya, baik itu dengan Nama-Nama maupun Sifat-Sifat Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala dan mensucikanNya dari segala aib dan kekurangan, sebagaimana hal tersebut telah disucikan oleh Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala dan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mzaky.wordpress.com&amp;blog=4708386&amp;post=16&amp;subd=mzaky&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong> Oleh : Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas</strong></p>
<p>Ahlus Sunnah menetapkan apa-apa yang Allah Azza wa Jalla dan RasulNya Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam telah tetapkan atas diri-Nya, baik itu dengan Nama-Nama maupun Sifat-Sifat Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala dan mensucikanNya dari segala aib dan kekurangan, sebagaimana hal tersebut telah disucikan oleh Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala dan Rasul-Nya Shallallahu alaihi wa sallam. Kita wajib menetapkan Sifat Allah sebagaimana yang terdapat dalam al-Qur&#8217;an dan as-Sunnah dan tidak boleh dita&#8217;wil.</p>
<p>Al-Walid bin Muslim pernah bertanya kepada Imam Malik bin Anas, al-Auza&#8217;iy, al-Laits bin SaÂ¡&#8217;ad dan Sufyan ats-Tsaury tentang berita yang datang mengenai Sifat-Sifat Allah, mereka semua menjawab,</p>
<p>&#8220;Perlakukanlah (ayat-ayat tentang Sifat Allah) sebagaimana datangnya dan janganlah kamu persoalkan (jangan kamu tanya tentang bagaimana sifat itu).&#8221;[1]</p>
<p>Imam Asy-Syafi&#8217; Rahimahullah berkata,</p>
<p>&#8220;Aku beriman kepada Allah dan kepada apa-apa yang datang dari Allah sesuai dengan apa yang diinginkan-Nya dan aku beriman kepada Rasulullah dan kepada apa-apa yang datang dari beliau, sesuai dengan apa yang dimaksud oleh Rasulullah SAW [2]</p>
<p>Kata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Rahimahullah: &#8220;Manhaj Salaf dan para Imam Ahlus Sunnah mereka mengimani Tauhid al-Asma&#8217; wash Shifat dengan menetapkan apa-apa yang Allah telah tetapkan atas diri-Nya dan telah ditetapkan Rasul-Nya Shallallahu alaihi wa sallam untuk-Nya, tanpa tahrif[3] dan ta&#8217;thil[4] serta tanpa takyif[5] dan tamtsil[6]. Menetapkan tanpa tamtsil, menyucikan tanpa ta&#8217;thil, menetapkan semua Sifat-Sifat Allah dan menafikan persamaan Sifat-Sifat Allah dengan makhluk-Nya&#8221;</p>
<p>Firman Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala:</p>
<p>&#8220;Artinya : Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya. Dan Dia-lah Yang Mahamendengar lagi Mahamelihat [Asy-Syuura':11]</p>
<p>Lafazh ayat : &#8220;Tidak ada yang serupa dengan-Nya&#8221; merupakan bantahan kepada golongan yang menyamakan Sifat-Sifat Allah dengan makhluk-Nya.</p>
<p>Sedangkan lafazh ayat : &#8220;Dan Dia Mahamen-dengar lagi Mahamelihat&#8221; adalah bantahan kepada orang-orang yang menafikan/mengingkari Sifat-Sifat Allah.</p>
<p>&#8216;Itiqad Ahlus Sunnah dalam masalah Sifat Allah Subhanhu wa Ta&#8217;ala didasari atas dua prinsip:</p>
<p><strong><em> Pertama.</em></strong><br />
Bahwasanya Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala wajib disucikan dari semua sifat-sifat kurang secara mutlak, seperti ngantuk, tidur, lemah, bodoh, mati, dan lainnya.</p>
<p><strong><em> Kedua.</em></strong><br />
Allah mempunyai sifat-sifat yang sempurna yang tidak ada kekurangan sedikit pun juga, tidak ada sesuatu pun dari makhluk yang menyamai Sifat-Sifat Allah.[7]</p>
<p>Ahlus Sunnah wal Jama&#8217;ah tidak menolak sifat-sifat yang disebutkan Allah untuk Diri-Nya, tidak menyelewengkan kalam Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala dari kedudukan yang semestinya, tidak mengingkari tentang Asma&#8217; (Nama-Nama) dan ayat-ayatNya, tidak menanyakan tentang bagaimana Sifat Allah, serta tidak pula mempersamakan Sifat-Nya dengan sifat makhluk-Nya.</p>
<p>Ahlus Sunnah wal Jama&#8217;ah mengimani bahwa Allah Azza wa Jalla tidak sama dengan sesuatu apapun juga. Hal itu karena tidak ada yang serupa, setara dan tidak ada yang sebanding dengan-Nya Azza wa Jalla, serta Allah tidak dapat diqiaskan dengan makhluk-Nya.</p>
<p>Yang demikian itu dikarenakan hanya Allah Azza wa Jalla sajalah yang lebih tahu akan Diri-Nya dan selain Diri-Nya. Dialah yang lebih benar firman-Nya, dan lebih baik Kalam-Nya daripada seluruh makhluk-Nya, kemudian para Rasul-Nya adalah orang-orang yang benar, jujur, dan juga yang dibenarkan sabdanya. Berbeda dengan orang-orang yang mengatakan terhadap Allah Azza wa Jalla apa yang tidak mereka ketahui, karena itu Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala berfirman:</p>
<p>&#8220;Artinya : Mahasuci Rabb-mu, yang mempunyai keperkasaan dari apa yang mereka katakan. Dan kesejahteraan dilimpahkan atas para Rasul, dan segala puji bagi Allah Rabb sekalian alam. [Ash-Shaffat: 180-182]</p>
<p>Allah Jalla Jalaluhu dalam ayat ini mensucikan diri-Nya, dari apa yang disifatkan untuk-Nya oleh penentang-penentang para Rasul-Nya. Kemudian Allah Azza wa jalla melimpahkan salam sejahtera kepada para Rasul, karena bersihnya perkataan mereka dari hal-hal yang mengurangi dan menodai keagungan Sifat Allah.[8]</p>
<p>Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala dalam menuturkan Sifat dan Asma&#8217;Nya, memadukan antara an-Nafyu wal Itsbat (menolak dan menetapkan)[9] Maka Ahlus Sunnah wal Jama&#8217;ah tidak menyimpang dari ajaran yang dibawa oleh para Rasul, karena itu adalah jalan yang lurus (ash-Shiraathal Mustaqiim), jalan orang-orang yang Allah karuniai nikmat, yaitu jalannya para Nabi, shiddiqin, syuhada dan shalihin[10]</p>
<p>[Disalin dari www.almanhaj.or.id yang sebelumnya disalin dari kitab Syarah Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama'ah Oleh Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Pustaka At-Taqwa, Po Box 264 Bogor 16001, Cetakan Pertama Jumadil Akhir 1425H/Agustus 2004M]<br />
_________<br />
Foote Note<br />
[1]. Diriwayatkan oleh Imam Abu Bakar al-Khallal dalam Kitabus Sunnah, al-Laalikai (no. 930). Lihat Fatwa Hamawiyah Kubra (hal. 303, cet. I, 1419 H) oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, tahqiq Hamd bin Abdil Muhsin at-Tuwaijiry, Mukhtashar al-Uluw lil Aliyil Ghaffar (hal. 142 no. 134). Sanadnya shahih.<br />
[2]. Lihat Lum&#8217;atul I&#8217;tiqaad oleh Imam Ibnul Qudamah al-Maqdisy, syarah oleh Syaikh Muhammad Shalih bin al-Utsaimin (hal. 36).<br />
[3]. Tahrif atau ta&#8217;wil yaitu merubah lafazh Nama dan Sifat, atau merubah maknanya, atau menyelewengkan dari makna yang sebenarnya.<br />
[4]. Ta&#8217;thil yaitu menghilangkan dan menafikan Sifat-Sifat Allah atau mengingkari seluruh atau sebagian Sifat-Sifat Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala.<br />
Perbedaan antara tahrif dan ta&#8217;thil ialah, bahwa ta&#8217;thil itu mengingkari atau menafikan makna yang sebenarnya yang dikandung oleh suatu nash dari al-Qur&#8217;an atau hadits Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, sedangkan tahrif ialah, merubah lafazh atau makna, dari makna yang sebenarnya yang terkandung dalam nash tersebut.<br />
[5]. Takyif yaitu menerangkan keadaan yang ada padanya sifat atau mempertanyakan: &#8220;Bagaimana Sifat Allah itu?&#8221;. Atau menentukan bahwa Sifat Allah itu hakekatnya begini, seperti menanyakan: &#8220;Bagaimana Allah bersemayam?&#8221; Dan yang sepertinya, karena berbicara tentang sifat sama juga berbicara tentang dzat. Sebagaimana Allah Azza wa Jalla mempunyai Dzat yang kita tidak mengetahui kaifiyatnya. Dan hanya Allah Azza wa Jalla yang mengetahui dan kita wajib mengimani tentang hakikat maknanya.<br />
[6]. Tamtsil sama dengan Tasybih, yaitu mempersamakan atau menyerupakan Sifat Allah Azza wa Jalla dengan makhluk-Nya. Lihat Syarah Aqidah al-Wasithiyah (I/86-100) oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, Syarah Aqidah al-Wasithiyah (hal 66-69) oleh Syaikh Muhammad Khalil Hirras, Tahqiq Alawiy as-Saqqaf, at-Tanbiihat al-Lathifah ala Mahtawat alaihil Aqidah al-Wasithiyah (hal 15-18) oleh Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa&#8217;di, tahqiq Syaikh Abdul Aziz bin Bazz, al-Kawaasyif al-Jaliyyah an Ma&#8217;anil Wasithiyah oleh Syaikh Abdul Aziz as-Salman.<br />
[7]. Lihat Minhajus Sunnah (II/111, 523), tahqiq Dr. Muhammad Rasyad Salim.<br />
[8]. Lihat at-Tanbiihaat al-Lathiifah hal. 15-16.<br />
[9]. Maksudnya, Allah memadukan kedua hal ini ketika menjelaskan Sifat-Sifat-Nya dalam al-Qur-an. Tidak hanya menggunakan Nafyu saja atau Itsbat saja.<br />
Nafyu (penolakan) dalam al-Qur&#8217;an secara garis besarnya menolak adanya kesamaan atau keserupaan antara Allah dengan makhluk-Nya, baik dalam Dzat maupun sifat, serta menolak adanya sifat tercela dan tidak sempurna bagi Allah. Dan nafyu bukanlah semata-mata menolak, tetapi penolakan yang di dalamnya terkandung suatu penetapan sifat kesempurnaan bagi Allah, misalnya disebutkan dalam al-Qur&#8217;an bahwa Allah tidak mengantuk dan tidak tidur, maka ini menunjukkan sifat hidup yang sempurna bagi Allah.<br />
Itsbat (penetapan), yaitu menetapkan Sifat Allah yang mujmal (global), seperti pujian dan kesempurnaan yang mutlak bagi Allah dan juga menetapkan Sifat-Sifat Allah yang rinci seperti ilmu-Nya, kekuasaan-Nya, hikmah-Nya, rahmat-Nya dan yang seperti itu. (Lihat Syarh al-Aqiidah al-Wasithiyyah oleh Khalil Hirras, tahqiq Alwiy as-Saqqaf, hal. 76-78).<br />
[10]. Lihat QS. An-Nisaa&#8217; 69 dan at-Tanbiihaat al-Lathiifah hal. 19-20.</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/mzaky.wordpress.com/16/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/mzaky.wordpress.com/16/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mzaky.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mzaky.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mzaky.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mzaky.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/mzaky.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/mzaky.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/mzaky.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/mzaky.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mzaky.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mzaky.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mzaky.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mzaky.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mzaky.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mzaky.wordpress.com/16/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mzaky.wordpress.com&amp;blog=4708386&amp;post=16&amp;subd=mzaky&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mzaky.wordpress.com/2008/09/07/tauhid-al-asma-wash-shifat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/03456a19a491e796bff09d231a5c690e?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">mzaky</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tauhid Uluhiyyah</title>
		<link>http://mzaky.wordpress.com/2008/09/07/tauhid-uluhiyyah/</link>
		<comments>http://mzaky.wordpress.com/2008/09/07/tauhid-uluhiyyah/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 07 Sep 2008 13:31:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mzaky</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah Ahlus Sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[tauhid]]></category>
		<category><![CDATA[uluhiyyah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mzaky.wordpress.com/?p=20</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas Artinya, mengesakan Allah Subhanahu wa Ta’ala melalui segala pekerjaan hamba, yang dengan cara itu mereka bisa mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala apabila hal itu disyari’atkan oleh-Nya, seperti berdo’a, khauf (takut), raja’ (harap), mahabbah (cinta), dzabh (penyembelihan), bernadzar, isti’anah (minta pertolongan), isthighotsah (minta pertolongan di saat [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mzaky.wordpress.com&amp;blog=4708386&amp;post=20&amp;subd=mzaky&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong> Oleh : Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas</strong></p>
<p>Artinya, mengesakan Allah Subhanahu wa Ta’ala melalui segala pekerjaan hamba, yang dengan cara itu mereka bisa mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala apabila hal itu disyari’atkan oleh-Nya, seperti berdo’a, khauf (takut), raja’ (harap), mahabbah (cinta), dzabh (penyembelihan), bernadzar, isti’anah (minta pertolongan), isthighotsah (minta pertolongan di saat sulit), isti’adzah (meminta perlindungan) dan segala apa yang disyari’atkan dan diperintahkan Allah Azza wa Jalla dengan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. Semua ibadah ini dan lainnya harus dilakukan hanya kepada Allah semata dan ikhlas karena-Nya. Dan tidak boleh ibadah tersebut dipalingkan kepada selain Allah.</p>
<p>Sungguh Allah tidak akan ridha bila dipersekutukan dengan sesuatu apapun. Bila ibadah tersebut dipalingkan kepada selain Allah, maka pelakunya jatuh kepada Syirkun Akbar (syirik yang besar) dan tidak diampuni dosanya. [Lihat An-Nisaa: 48, 116] [1]</p>
<p>Al-Ilah artinya al-Ma’luh, yaitu sesuatu yang disembah dengan penuh kecintaan serta pengagungan.</p>
<p>Allah Azza wa Jalla berfirman,</p>
<p>“Artinya : Dan Rabb-mu adalah Allah Yang Maha Esa, tidak ada sesem-bahan yang haq melainkan Dia. Yang Mahapemurah lagi Maha-penyayang” [Al-Baqarah: 163]</p>
<p>Berkata Syaikh al-‘Allamah ‘Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di Rahimahullah (wafat th. 1376 H): “Bahwasanya Allah itu tunggal Dzat-Nya, Nama-Nama, Sifat-Sifat dan perbuatan-Nya. Tidak ada sekutu bagi-Nya, baik dalam Dzat-Nya, Nama-Nama, Sifat-Sifat-Nya. Tidak ada yang sama dengan-Nya, tidak ada yang sebanding, tidak ada yang setara dan tidak ada sekutu bagi-Nya. Tidak ada yang mencipta dan mengatur alam semesta ini kecuali hanya Allah. Apabila demikian, maka Dia adalah satu-satunya yang berhak untuk diibadahi. Tidak boleh Dia disekutukan dengan seorang pun dari makhluk-Nya[2]</p>
<p>Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,</p>
<p>“Artinya : Allah menyatakan bahwa tidak ada yang berhak disembah dengan benar selain Dia, Yang menegakkan keadilan. Para Malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan demikian). Tidak ada yang berhak disembah dengan benar selain-Nya, Yang Maha-perkasa lagi Mahabijaksana” [Ali ‘Imran: 18]</p>
<p>Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman mengenai Lata, Uzza dan Manat yang disebut sebagai tuhan, namun tidak diberi hak Uluhiyah,</p>
<p>“Artinya : Itu tidak lain hanyalah nama-nama yang kamu dan bapak-bapakmu mengada-adakannya, Allah tidak menurunkan suatu keterangan pun untuk (menyembah)nya&#8230;”[An-Najm: 23]</p>
<p>Setiap sesuatu yang disembah selain Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah bathil, dalilnya adalah firman Allah Azza wa Jalla,</p>
<p>“Artinya : (Kuasa Allah) yang demikian itu adalah karena sesungguhnya Allah, Dia-lah Yang Haq dan sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain dari Allah, itulah yang bathil, dan sesungguhnya Allah, Dia-lah Yang Mahatinggi lagi Mahabesar” [Al-Hajj: 62]</p>
<p>Allah Azza wa Jalla juga berfirman tentang Nabi Yusuf &#8216;Alaihis Sallam yang berkata kepada kedua temannya di penjara,</p>
<p>“Artinya : Hai kedua temanku dalam penjara, manakah yang baik, tuhan-tuhan yang bermacam-macam itu ataukah Allah Yang Mahaesa lagi Mahaperkasa? Kamu tidak menyembah selain Allah, kecuali hanya (menyembah) nama-nama yang kamu dan nenek moyangmu membuat-buatnya. Allah tidak menurunkan suatu keterangan pun tentang nama-nama itu…”[Yusuf: 39-40]</p>
<p>Oleh karena itu para Rasul ‘Alaihimus Salam berkata kepada kaumnya agar beribadah hanya kepada Allah saja, [3]</p>
<p>“Artinya : Sembahlah Allah olehmu sekalian, sekali-kali tidak ada sesem-bahan yang haq selain daripada-Nya. Maka, mengapa kamu tidak bertaqwa (kepada-Nya)” [ Al-Mukminuun: 32]</p>
<p>Orang-orang musyrik tetap saja mengingkarinya. Mereka masih saja mengambil sesembahan selain Allah Subhanahu wa Ta’ala. Mereka menyembah, meminta bantuan dan pertolongan kepada tuhan-tuhan itu dengan menyekutukan Allah Subhanahu wa Ta’ala .</p>
<p>Pengambilan tuhan-tuhan yang dilakukan oleh orang-orang musyrik ini telah dibatalkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan dua bukti.</p>
<p><em><strong> Pertama.</strong></em><br />
Tuhan-tuhan yang diambil itu tidak mempunyai keistimewaan Uluhiyah sedikit pun, karena mereka adalah makhluk, tidak dapat menciptakan, tidak dapat menarik kemanfaatan, tidak dapat menolak bahaya, tidak dapat menghidupkan dan mematikan.</p>
<p>Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,</p>
<p>“Artinya :Mereka mengambil tuhan-tuhan selain daripada-Nya (untuk disembah), yang tuhan-tuhan itu tidak menciptakan apapun, bahkan mereka sendiri diciptakan dan tidak kuasa untuk (menolak) sesuatu kemudharatan dari dirinya dan tidak (pula untuk mengam-bil) sesuatu kemanfaatan pun dan (juga) tidak kuasa mematikan, menghidupkan dan tidak (pula) membangkitkan.” [Al-Fur-qaan: 3]</p>
<p>Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,</p>
<p>“Artinya : Katakanlah: ‘Serulah mereka yang kamu anggap (sebagai tuhan) selain Allah. Mereka tidak memiliki (kekuasaan) seberat dzarrah pun di langit dan di bumi, dan mereka tidak mempunyai suatu saham pun dalam (penciptaan) langit. Dan bumi dan sekali-kali tidak ada di antara mereka yang menjadi pembantu bagi-Nya.’ Dan tiadalah berguna syafaat di sisi Allah, melainkan bagi orang yang telah diizinkan-Nya memperoleh syafaat..” [Saba’: 22-23]</p>
<p>Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,</p>
<p>“Artinya : Apakah mereka mempersekutukan (Allah dengan) berhala-berhala yang tidak dapat menciptakan sesuatu pun? Sedangkan berhala-berhala itu tidak mampu memberi pertolongan kepada penyembah-penyembahnya dan kepada dirinya sendiri pun berhala-berhala itu tidak dapat memberi pertolongan.” [Al-A’raaf: 191-192]</p>
<p>Apabila keadaan tuhan-tuhan itu demikian, maka sungguh sangat bodoh, bathil dan zhalim apabila menjadikan mereka sebagai ilah dan tempat meminta pertolongan.</p>
<p><em><strong> Kedua.</strong></em><br />
Sebenarnya orang-orang musyrik mengakui bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah satu-satunya Rabb, Pencipta, yang di tangan-Nya kekuasaan segala sesuatu. Mereka juga mengakui bahwa hanya Dia-lah yang dapat melindungi dan tidak ada yang dapat melin-dungi-Nya. Ini mengharuskan pengesaan Uluhiyyah (penghambaan), seperti mereka mengesakan Rububiyah (ketuhanan) Allah. Tauhid Rububiyah mengharuskan adanya konsekuensi untuk me-laksanakan Tauhid Uluhiyah (beribadah hanya kepada Allah saja),</p>
<p>“Artinya : Hai manusia, sembahlah Rabb-mu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertaqwa. Dia-lah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap. Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rizki untukmu, karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui”[Al-Baqarah: 21-22]</p>
<p>[Disalin dari www.almanhaj.or.id yang sebelumnya disalin dari kitab Syarah Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama'ah Oleh Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Pustaka At-Taqwa, Po Box 264 Bogor 16001, Cetakan Pertama Jumadil Akhir 1425H/Agustus 2004M]<br />
_________<br />
Foote Note<br />
[1]. Disebutkan oleh Ibnu Katsir dari Ibnu ‘Abbas, Mujahid, ‘Atha’, Ikrimah, asy-Sya’bi, Qatadah dan lainnya. Lihat Fathul Majiid Syarh Kitabit Tauhiid (hal. 39-40) tahqiq Dr. Walid bin ‘Abdirrahman bin Muhammad al-Furaiyan.<br />
[2]. Lihat Min Ushuuli ‘Aqiidah Ahlis Sunnah wal Jamaa’ah dan Aqidatut Tauhiid (hal. 36) oleh Dr. Shalih al-Fauzan, Fathul Majiid Syarah Kitabut Tauhiid dan al-Ushuul ats-Tsalaatsah (Tiga Landasan Utama).<br />
[3]. Lihat Taisirul Kariimir Rahmaan fii Tafsiiri Kalaamil Mannaan (hal. 63, cet. Mak-tabah al-Ma’arif , 1420 H).</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/mzaky.wordpress.com/20/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/mzaky.wordpress.com/20/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mzaky.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mzaky.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mzaky.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mzaky.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/mzaky.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/mzaky.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/mzaky.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/mzaky.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mzaky.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mzaky.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mzaky.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mzaky.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mzaky.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mzaky.wordpress.com/20/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mzaky.wordpress.com&amp;blog=4708386&amp;post=20&amp;subd=mzaky&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mzaky.wordpress.com/2008/09/07/tauhid-uluhiyyah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/03456a19a491e796bff09d231a5c690e?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">mzaky</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tauhid Rububiyyah</title>
		<link>http://mzaky.wordpress.com/2008/09/07/tauhid-rububiyyah/</link>
		<comments>http://mzaky.wordpress.com/2008/09/07/tauhid-rububiyyah/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 07 Sep 2008 12:58:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mzaky</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah Ahlus Sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[rububiyyah]]></category>
		<category><![CDATA[tauhid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mzaky.wordpress.com/?p=12</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas Tauhid Rububiyyah berarti mentauhidkan segala apa yang dikerjakan Allah Subhanahu wa Ta’ala baik mencipta, memberi rizki menghidupkan dan mematikan serta bahwasanya Dia adalah Raja, Penguasa dan Yang mengatur segala sesuatu. Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala berfirman, “Artinya : Ingatlah, menciptakan dan memerintahkan hanyalah hak Allah. Mahasuci Allah, Rabb [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mzaky.wordpress.com&amp;blog=4708386&amp;post=12&amp;subd=mzaky&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong> Oleh : Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas</strong></p>
<p>Tauhid Rububiyyah berarti mentauhidkan segala apa yang dikerjakan Allah Subhanahu wa Ta’ala baik mencipta, memberi rizki menghidupkan dan mematikan serta bahwasanya Dia adalah Raja, Penguasa dan Yang mengatur segala sesuatu.</p>
<p>Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala berfirman,</p>
<p>“Artinya : Ingatlah, menciptakan dan memerintahkan hanyalah hak Allah. Mahasuci Allah, Rabb semesta alam.” [Al-A’raaf: 54]</p>
<p>Allah Azza wa Jalla berfirman,</p>
<p>“Artinya : &#8230;Yang (berbuat) demikian itulah Allah Rabb-mu, kepunyaanNya-lah kerajaan. Dan orang-orang yang kamu seru (sembah) selain Allah, tiada mempunyai apa-apa walaupun setipis kulit ari.”[ Faathir: 13]</p>
<p>Orang musyrikin juga mengakui tentang sifat Rububiyyah Allah. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,</p>
<p>“Artinya : Katakanlah: ‘Siapakah yang memberi rizki kepadamu, dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan yang mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan.’ Maka, mereka men-jawab: ‘Allah.’ Maka, katakanlah: ‘Mengapa kamu tidak bertaqwa (kepada-Nya)?’ Maka, (Dzat yang demikian) itulah Allah Rabb kamu yang sebenarnya, maka tidak ada sesudah kebenaran itu, melainkan kesesatan. Maka, bagaimanakah kamu dipalingkan (dari kebenaran)&#8221; [Yunus: 31-32]</p>
<p>Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,</p>
<p>“Artinya : Dan sungguh jika kamu tanyakan kepada mereka: ‘Siapakah yang menciptakan langit dan bumi,’ niscaya mereka akan menjawab: ‘Semuanya diciptakan oleh Yang Mahaperkasa lagi Maha-mengetahui&#8221;[Az-Zukhruuf: 9][1]</p>
<p>Kaum musyrikin mengakui bahwasanya hanya Allah semata Pencipta segala sesuatu, Pemberi rezeki, Yang memiliki langit dan bumi, dan Yang mengatur alam semesta, namun mereka juga menetapkan berhala-berhala yang mereka anggap sebagai penolong, yang mereka bertawasul dengannya (berhala tersebut) dan menjadikan mereka pemberi syafa’at, sebagaimana yang disebutkan dalam beberapa ayat. [2]</p>
<p>Dengan perbuatan tersebut, mereka tetap dalam keadaan musyrik, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,</p>
<p>&#8220;Artinya : Dan sebagian besar dari mereka tidak beriman kepada Allah, melainkan dalam keadaan mempersekutukan Allah (dengan sembahan-sembahan lain ).” [Yusuf: 106]</p>
<p>Sebagian ulama Salaf berkata: “Jika kalian tanya pada mereka : ‘Siapa yang menciptakan langit dan bumi ?’ Mereka pasti menjawab: ‘Allah.’ Walaupun demikian mereka tetap saja menyembah kepada selain-Nya.” [3]</p>
<p>[Disalin dari www.almnhaj.or.id yang sebelumnya disalin dari kitab Syarah Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama'ah Oleh Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Pustaka At-Taqwa, Po Box 264 Bogor 16001, Cetakan Pertama Jumadil Akhir 1425H/Agustus 2004M]<br />
_________<br />
Foote Note<br />
[1]. Lihat juga QS. Al-Mu’minuun: 84-89, lihat juga ayat-ayat lain.<br />
[2]. Lihat QS. Yunus: 18, az-Zumar: 3, 43-44.<br />
[3]. Disebutkan oleh Ibnu Katsir dari Ibnu ‘Abbas, Mujahid, ‘Atha’, Ikrimah, asy-Sya’bi, Qatadah dan lainnya. Lihat Fat-hul Majiid Syarh Kitabit Tauhiid (hal. 39-40) tahqiq Dr. Walid bin ‘Abdirrahman bin Muhammad al-Furaiyan.</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/mzaky.wordpress.com/12/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/mzaky.wordpress.com/12/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mzaky.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mzaky.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mzaky.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mzaky.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/mzaky.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/mzaky.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/mzaky.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/mzaky.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mzaky.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mzaky.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mzaky.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mzaky.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mzaky.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mzaky.wordpress.com/12/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mzaky.wordpress.com&amp;blog=4708386&amp;post=12&amp;subd=mzaky&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mzaky.wordpress.com/2008/09/07/tauhid-rububiyyah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/03456a19a491e796bff09d231a5c690e?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">mzaky</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Beberapa Kesalahan Dalam Penamaan Dan Istilah</title>
		<link>http://mzaky.wordpress.com/2008/09/04/bbrp_kslhn_nama_istlh/</link>
		<comments>http://mzaky.wordpress.com/2008/09/04/bbrp_kslhn_nama_istlh/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 04 Sep 2008 06:15:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mzaky</dc:creator>
				<category><![CDATA[Adab dan Perilaku]]></category>
		<category><![CDATA[istilah]]></category>
		<category><![CDATA[kesalahan]]></category>
		<category><![CDATA[nama]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mzaky.wordpress.com/?p=4</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu Kesalahan Pertama : Penisbatan isteri kepada suaminya, seperti : Suha Arafat, nisbat kepada suaminya. Ini merupakan suatu kesalahan, berdasarkan firman Allah subhanahu wa Ta’ala. “Panggilah mereka (anak-anak angkat itu) dengan (memakai) nama bapak-bapak mereka, itulah yang lebih adil pada sisi Allah “ [Al-Ahzab : 5] Yang benar ialah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mzaky.wordpress.com&amp;blog=4708386&amp;post=4&amp;subd=mzaky&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Oleh :  Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu</strong></p>
<p>Kesalahan Pertama :<br />
Penisbatan isteri kepada suaminya, seperti : Suha Arafat, nisbat kepada suaminya. Ini merupakan suatu kesalahan, berdasarkan firman Allah subhanahu wa Ta’ala.</p>
<p>“Panggilah mereka (anak-anak angkat itu) dengan (memakai) nama bapak-bapak mereka, itulah yang lebih adil pada sisi Allah “ [Al-Ahzab : 5]</p>
<p>Yang benar ialah Suha bintu Fulan (nisbat kepada bapaknya)</p>
<p>Kesalahan Kedua :<br />
Penyebutan sesuatu tidak menggunakan nama yang sebenarnya menurut syar’i. seperti penyebutan riba bank diganti dengan faidah bank, khamr telah diberi nama dengan nama dan atau label yang banyak dan bermacam-macam, hingga ada yang menamainya minuman untuk membangkitkan semangat dan sebagainya, zina diganti dengan hubungan sex dan sebagainya.</p>
<p>Yang benar, seharusnya kita menyebut hal-hal tersebut berdasarkan apa yang telah Allah Subhanahu wa Ta’ala namakan. Karena dalam penamaan (yang Allah berikan tersebut) terdapat banyak faidah. Di antaranya, agar manusia mengetahui apa-apa yang telah diharamkan Allah, baik nama ataupun sifatnya. Sehingga mereka menjauhinya, setelah mengetahui bahaya dan ancaman siksa (bagi yang melanggar). Dan tidak timbul kesan meremehkan pada jiwa kita mengenai keharaman tersebut setelah namanya diganti.</p>
<p>Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,</p>
<p>“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman. Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba) maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasulnya akan memerangimu. Dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu ; kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya” [Al-Baqarah : 278]</p>
<p>Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman,</p>
<p>“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamr, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian diantara kamu dengan sebab (meminum) khamr dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan shalat, maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu)” [Al-Maidah : 90-91]</p>
<p>Kemudian firman-Nya,</p>
<p>“Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk” [Al-isra : 32]</p>
<p>Kesalahan Ketiga :<br />
Penyebutan kata Al-Karm untuk anggur. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melarang menyebut anggur dengan kata Al-Karm. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,</p>
<p>“Janganlah kalian namakan Al-Karm, tapi namakanlah al’inab dan al-hablah” [HR Muslim]</p>
<p>Kata Al-Inab dan Al-Hablah memiliki makna yang sama, yakni anggur. Beliau Shallallahu alaiahi wa salam juga bersabda.</p>
<p>“Mereka menyebut Al-Karm, sesungguhnya Al-Karm adalah hati seorang mu’min” [HR Al-Bukhari]</p>
<p>Beliau melarang hal ini disebabkan lafadz Al-Karm menunjukkan akan melimpahnya kebaikan dan manfaat pada sesuatu. Dan hati seorang mukmin lebih berhak untuk itu.</p>
<p>Kesalahan Keempat :<br />
Berkun-yah dengan kun-yah Abul Hakam. Karena Al-Hakim adalah Allah. Maka, tidak boleh berkun-yah dengan kun-yah tersebut. Yang benar, kita berkun-yah dengan kun-yah yang disunnahkan, seperti Abu Abdillah, Abu Abdirrahman, Abu Abdil Hakam. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.</p>
<p>“Sesungguhnya nama yang paling dicintai Allah adalah Abdullah dan Abdurrahman” [HR Muslim]</p>
<p>Dalam hadits Al-Miqdam bin Syuraih bin Hani, ketika ia (yakni Hani) bersama kaumnya datang kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau mendengar mereka memberi kun-yah Abul Hakam kepadanya. Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memanggilnya, beliau berkata.</p>
<p>“Sesungguhnya Allah adalah Al-Hakam dan kepadaNyalah hukum kembali, maka mengapakah engkau berkun-yah dengan Abul Hakam? Ia (Hani) berkata, “Sesungguhnya jika kaumku berselisih, mereka mendatangiku lalu kuputuskan hukum diantara mereka hingga kedua belah pihak ridha atas keputusanku”. Beliau berkata, “Alangkah baiknya perbuatanmu, apakah engkau memiliki anak?” Ia menjawab, “Aku memiliki Syuraih, Abdullah dan Muslim. Beliau bertanya lagi, “Siapakah yang paling besar diantara mereka?” Ia menjawab, “Syuraih”. Beliau berkata, “Kalau begitu, engkau Abu Syuraih” [HR An-Nasa’i]</p>
<p>Kesalahan Kelima :<br />
Memberi nama dengan nama yang mengandung unsur tazkiyah (penyucian diri), seperti : Barrah (orang yang banyak berbakti), Khalifatullah (Khalifah Allah), Wakilullah (Wakil Allah), dan sebagainya.</p>
<p>Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang  memberi nama  Barrah. Beliau bersabda,</p>
<p>“Janganlah kalian mengatakan diri kalian suci, karena Allah lebih tahu siapa yang baik diantara kalian” [HR Muslim]</p>
<p>Yang benar, ialah memberi nama dengan nama-nama yang disyariatkan, seperti : Zainab, Asma, Abdullah, Abdurrahman. Ataupun nama para nabi, seperti ; Yusuf, Ibrahim dan sebagainya.</p>
<p>Yusuf bin Abdillah bin Salam Radhiyallahu ‘anhu mengisahkan,</p>
<p>“Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menghadiahkan nama Yusuf untukku. Beliau meletakkanku di pangkuannya dan beliau mengusap kepalaku” [HR Al-Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad, hal. 248]</p>
<p>Juwairiyah bintu Al-Harits Al-Khuza’iyyah, dahulu bernama Barrah. Kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam merubah namanya menjadi Juwairiyah, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya.</p>
<p>Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda dalam haditsnya yang lain, berkaitan dengan nama tazkiyah.</p>
<p>“Janganlah engkau namakan putramu dengan Rabah, Yasar, Aflah dan Nafi’” [HR Muslim]</p>
<p>Demikian juga dengan nama Kalifatullah ataupun Wakilullah. Arti kata al-wakil adalah seseorang yang bertindak mewakili pihak yang mewakilkan. Sedangkan Allah tidak ada wakil bagi-Nya, dan tidak ada yang bisa menggantikanNya. Bahkan Dialah yang memelihara hamba-Nya, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.</p>
<p>“Ya Allah, Engkau adalah teman dalam perjalanan dan pemelihara keluarga (yang kami tinggal)” [HR Muslim]</p>
<p>Nabi juga melarang kita menamakan diri dengan sebutan Malikul Amlak (Raja Diraja). Beliau Shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda.</p>
<p>“Nama yang paling hina disisi Allah pada hari Kiamat adalah seseorang yang menamakan diri dengan sebutan Malikul Amlak (Raja Diraja)” [HR Al-Bukhari]</p>
<p>Kesalahan Keenam :<br />
Memberi nama dengan nama yang buruk, seperti ; Harb (perang), Sha’b (sulit, susah), Hazan (kesedihan), Ushaiyyah (maksiat), Aashiyah (wanita yang bermaksiat), Murrah (pahit) dan yang semisal dengan itu.</p>
<p>Yang benar, memberi nama dengan nama yang baik, seperti : Hasan, Husain, dan yang semisalnya.</p>
<p>Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat menyukai nama yang baik. Beliau bertafaul (berharap kebaikan) dengan nama tersebut. Barangsiapa mau mendalami hadits-hadits Nabi, niscaya dia akan mendapati makna-makna nama yang berkaitan dengan sunnah. Seakan-akan nama-nama itu diambil dari sunnah-sunnah itu.</p>
<p>Cobalah renungi sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa salam berikut,</p>
<p>“Ghafar adalah orang yang Allah ampuni dan Aslam adalah yang Allah selamatkan, sedangkan Ushaiyyah dialah yang bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya” [HR Al-Bukhari]</p>
<p>Jika anda ingin mengetahui, adakah pengaruh nama bagi pemiliknya? Maka perhatikanlah kisah Said bin Al-Musayyib berikut ini.</p>
<p>“Dari Ibnu Al-Musayyib, dari bapaknya, sesungguhnya bapaknya (yakni kakek Ibnu Al-Musayyib) datang menemui Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau bertanya : “Siapakah namamu?”. Ia menjawab, “Hazn”. Beliau berkata, “Engkau adalah Sahl”. Ia berkata. “Aku tidak akan merubah nama pemberian bapakku”. Ibnul Musayyib berkata : “Sejak itu kesusahan senantiasa meliputi kami” [HR Al-Bukhari]</p>
<p>Makna kata al-Huzunah (dalam hadits diatas, -red) adalah Al-Ghilzah (kekerasan, kesusahan) Dapat pula bearti tanah yang keras atau tanah datar.</p>
<p>Dari Ibnu Umar Radhiyallahu ‘anhuma, sesungguhnya Nabi merubah nama ‘Aashiyah. Beliau berkata, “Kamu Jamilah”.</p>
<p>Ketika Al-Hasan lahir, Ali menamainya Harb. Kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam datang seraya berkata : “Perlihatkan kepadaku cucuku. Siapa nama yang kalian berikan pada cucuku?” Ali berkata, “Harb”. Beliau berkata, “Bahkan namanya adalah Hasan” [HR Ahmad]</p>
<p>Kesalahan Ketujuh :<br />
Sebagian orang memberikan julukan attatharruf fid din (sikap berlebih-lebihan dalam agama) kepada mereka yang memegang agama secara mutasyadid (ekstrim)</p>
<p>Yang benar kita sebut ghuluw fid dien (berlebih-lebihan dalam agama). Penyebutan ini pun diberikan, jika memang orang tersebut telah benar-benar keluar dari agama karena sikap ghuluwnya tadi.</p>
<p>Ahli hadits mengatakan istilah attatharruf fid dien ini muncul pada awal-awal abad ke lima belas hijriah. Ketika itu terjadi taubat massal para pemuda muslim. Mereka berbondong-bondong kembali kepada Allah., ber-iltizam (konsisten) kepada hukum-hukum dan adab-adab Islam, serta mendakwahkannya. Sebelumnya, kondisi orang semacam ini (yang ber-iltizam kepada Islam), justru dikatakan sebagai golongan terbelakang, ta’ashub, jumud dan ejekan-ejekan lainnya. Maka ketahuilah, sesungguhnya agama Allah berada di pertengahan antara sikap ghuluw (berlebih-lebihan) dan sikap meremehkan.</p>
<p>Para ulama Islam pada setiap masa pun senantiasa melarang sikap ghuluw dalam agama, disamping mereka juga selalu mengajak kepada taubat.</p>
<p>Adapun zaman sekarang, timbangan norma telah banyak diputar-balikkan. Hingga orang yang bertaubat dan kembali kepada Allah (yang nota bene hal ini merupakan sesuatu yang diwajibkan oleh syari’at) justru disingkirkan, dengan alasan sikap berlebihan tadi. Maksudnya, agar orang-orang menjauhi mereka dan untuk melumpuhkan dakwah ilallah. Ini jelas pemikiran jahat Yahudi. Semoga Allah membinasakan mereka.</p>
<p>Namun sangat aneh dan mengherankan. Kaum muslimin menerima begitu saja pemikiran tadi. Tidakkah mereka berpikir dan menolaknya?</p>
<p>Kesalahan Kedelapan :<br />
Sebagian suami memanggil isterinya dengan sebutan Ummul Mu’minin. Ini jelas haram. Karena konsekuensinya panggilan tersebut ialah sang suami haruslah seorang Nabi dan isteri-isterinya adalah Ummahatul Mu’minin. Suatu kesalahan yang bisa mengakibatkan kepada kekufuran. Karena kita harus meyakini, bahwa tidak ada nabi setelah Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam.</p>
<p>Ada juga suami yang memanggil isterinya dengan panggilan madam, suatu panggilan ala Perancis yang terlarang. Karena mengandung unsur tasyabbuh (meniru-niru) kaum kuffar.</p>
<p>Yang benar ialah memanggil isteri dengan nama kun-yahnya seperti Ummu Abdillah, Ummu Fulan, atau dapat juga dengan panggilan zaujati (isteriku) atau ahli (keluargaku).</p>
<p>Wallahul hadi ila ar-rasyad.</p>
<p>[Disalin dari www.almanhaj.or.id yang tulisan tersebut merupakan salinan dari Majalah As-Sunnah Edisi 12/Tahun VI/1423H/2003M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Almat Jl. Solo – Purwodadi Km. 8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183. telp. 0271-5891016]</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/mzaky.wordpress.com/4/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/mzaky.wordpress.com/4/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mzaky.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mzaky.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mzaky.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mzaky.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/mzaky.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/mzaky.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/mzaky.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/mzaky.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mzaky.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mzaky.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mzaky.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mzaky.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mzaky.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mzaky.wordpress.com/4/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mzaky.wordpress.com&amp;blog=4708386&amp;post=4&amp;subd=mzaky&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mzaky.wordpress.com/2008/09/04/bbrp_kslhn_nama_istlh/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/03456a19a491e796bff09d231a5c690e?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">mzaky</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
